
Harga minyak mentah Indonesia (ICP) bulan September 2026 mencapai 112,81 dolar Amerika Serikat per barel—lonjakan drastis yang hampir mencapai 23,38 dolar lebih tinggi dari bulan sebelumnya. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) resmi menetapkan angka ini melalui keputusan resmi.
Kenaikan tajam ini bukan terjadi di Indonesia saja. Hampir semua jenis minyak mentah di pasar dunia mengalami tren yang sama—Brent naik hingga 13,94 dolar, WTI naik 13,24 dolar, dan acuan OPEC mencapai kenaikan 24,29 dolar per barel pada periode yang sama.
Penyebab utama lonjakan harga adalah ketidakstabilan di kawasan Timur Tengah. Menurut Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Laode Sulaeman, “Kenaikan ini terjadi secara menyeluruh pada seluruh benchmark internasional” karena kondisi geopolitik yang tegang dan risiko gangguan pasokan yang meningkat.
Selat Hormuz—jalur perdagangan minyak paling penting dunia—menjadi titik lemah utama. Ekspor minyak melalui rute ini turun hingga 28 persen dibandingkan Juli, dipicu oleh serangan drone terhadap infrastruktur energi Arab Saudi dan ketegangan AS-Iran yang membuat keamanan pelayaran rawan terganggu.
Masalah pasokan juga datang dari penundaan produksi OPEC+ dan serangan berlanjutan terhadap kilang serta terminal ekspor di Rusia dan kawasan Laut Merah. Kombinasi semua faktor ini menciptakan pasar minyak yang sangat ketat dan harga yang terangkat ke atas.
Meskipun pemerintah memproyeksikan harga ICP akan mulai menurun di Oktober 2026—ke kisaran 98-103 dolar per barel—masih tetap berada di level tinggi. Pemerintah berkomitmen terus memantau dan menjaga ketahanan energi nasional melalui penetapan harga yang transparan dan akuntabel terhadap keuangan negara.
Sumber: Antara News
Baca Juga

Pemerintah Sumut Siapkan Stok BBM di Nias untuk Liburan Akhir Tahun

Danareksa Bakal Jadi Operator Kawasan Industri, BP BUMN Targetkan Selesai 2026

Sumsel Terima Rp200 Miliar Banpres Karhutla, Gubernur Ingatkan Penggunaan Harus Akuntabel

